banner
Thursday, 09 September 2010
Slider
Search
Webmail

Main Menu
Home
Katalog
Profil Perusahaan
News
Artikel
Link
Hubungi Kami
Buku Tamu
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Toko Buku
Toko Buku Mandiri
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday40
mod_vvisit_counterYesterday115
mod_vvisit_counterThis week412
mod_vvisit_counterThis month944

Pengunjung Terkini
zoorurnGro : 09.09.10 : 04:56
PolimohJoM : 03.09.10 : 00:19
CexAlierce : 02.09.10 : 05:09
gronfouri : 27.08.10 : 10:45
HoWspoosse : 25.08.10 : 23:05
Neargespus : 15.08.10 : 12:32
pyncNeerge : 14.08.10 : 14:37
mysoul_20 : 03.08.10 : 20:34
Snonnanus : 27.07.10 : 16:25
Papabaz : 23.07.10 : 12:26
Latest News
Jejak Pendapat
Pendapat Anda tentang website ini.?
 
Iklan Anda

advertesement
Home

Siapa yang Menyangka, Mereka akan menjadi Presiden RI


Siapa yang menyangka, anak-anak bangsa inilah yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia?

Ir.Soekarno

Read more...
 
Pendidikan di Indonesia Hanya Lahirkan “Mafia”
Pendidikan di Indonesia hanya melahirkan ahli “mafia” atau matematika, fisika, dan kimia, sehingga lulusan pendidikan di Indonesia tidak memiliki karakter.

“Faktanya, pengangguran terdidik di Indonesia saat ini mencapai 1,2 juta, sedangkan pengangguran tak terdidik hanya 700 orang,” kata konsultan kewirausahaan, Imam Supriyono di Surabaya, Senin.

Ia mengemukakan hal itu dalam seminar pendidikan bertajuk “Pendidikan dan Dunia Kerja” yang digelar HMI Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan menampilkan empat pembicara.

Menurut pemimpin “SNF Consulting” itu, fakta yang ada membuktikan pendidikan di Indonesia tidak melahirkan karakter, tapi melahirkan “mafia” yang sangat formalistik.

“Padahal, bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai 225 juta dengan penduduk miskin cukup besar itu, membutuhkan pendidikan karakter,” ucapnya.

Penulis sejumlah buku pendidikan dan kewirausahaan itu mengatakan, karakter yang diharapkan lahir dari dunia pendidikan adalah karakter yang jujur, tidak minta-minta, dan mampu menemukan jati diri.

“Kalau pendidikan hanya mengukur seseorang dari aspek nilai matematika, fisika, dan kimia maka pendidikan di Indonesia tidak akan melahirkan karakter,” ujarnya menegaskan.

Read more...
 
Apa yang Membuat Kita Tertinggal dalam Pendidikan?
Belajar bukanlah hanya sekedar membaca, menghafal dan mengikuti tes dalam suatu ujian tertentu untuk membuktikan bahwa anak didik sudah menguasai materi pendidikan. Apalagi materi pendidikan tersebut adalah bidang ilmu fisika.

Pertanyaannya adalah apakah ilmu fisika itu? Bagaimana suatu definisi dalam ilmu fisika dibuat? Apakah definisi berawal dari mencoba-coba ataukah dari melihat proses dan akibat yang dihasilkan dari alam?

Berawal dari memperhatikan suatu kejadian alam maka para pemikir (filosof) terkemuka seperti Galileo mengemukakan pertanyaan “mengapa sesuatu itu terjadi?” dan bersamaan dengan itu timbullah hipotesa (dugaan).

Hipotesa harus dijawab dengan pembuktian yang benar sehingga lahirlah definisi yang sering kita temukan dalam bidang ilmu fisika. Pembuktian tersebut dapat dilakukan dengan melakukan eksperimen dan percobaan-percobaan.

Apakah pendidikan di Indonesia ini telah melakukan proses belajar dan mengajar yang benar. Apakah para anak didik mengerti akan sejarah para pemikir (filosof) tersebut? Apakah para anak didik sudah melakukan eksperimen untuk membuktikan definisi yang sudah baku?

Read more...
 
Sistem Pendidikan Kita Melawan Hukum Alam

Sistem Pendidikan Kita Melawan Hukum Alam – Dr. Ratna Megawangi, MSc

Dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi janji bahwa pemerintah memenuhi anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sesuai dengan UUD 1945 hasil amendemen. Diharapkan setelah kesejahteraan guru, materi, dan infrastruktur terpenuhi, kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Menurut Ratna Megawangi, praktisi pendidikan dan pendiri Yayasan Warisan Luhur Indonesia, besaran persentase itu bukan masalah inti pendidikan Indonesia. Yang penting dibenahi lebih dulu adalah sistem pendidikan dan hasrat guru untuk mengajar. “Itu yang menjadi roh pendidikan sumber daya manusia,” ujarnya kepada Akmal Nasery Basral, Yophiandi, dan Santirta dari Tempo, Selasa pekan lalu.

Berikut petikannya. Bagaimana Anda melihat janji Presiden dalam pidato kenegaraan yang akan meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN? Memang ada asumsi peningkatan anggaran akan membuat kualitas pendidikan kita lebih baik, tetapi saya lihat masalahnya bukan di sana, melainkan pada sistem pendidikan dan kualitas guru. Kalau kita bicara roh pendidikan, kedua hal inilah yang perlu diperhatikan. Pendidikan kita selama ini academic oriented.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 25 - 28 of 230

QUOTE OF THE DAY

"Perhatikan kebiasaanmu, karena itu akan menjadi karaktermu. Bangunlah karaktermu, karena itu akan menentukan masa depanmu."

 

 

Stop Press
go green3.jpg

Designed by Karsa Mandiri Persada
Jl. Pulokambing No. 9
Kawasan Industri Pulogadung Jakarta Timur 13930
No. Telp : 021-4619151 (Hunting)
No. Faks : 021-4612217