Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bersama-sama.
Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh 2 monyet tersebut menurut anda?
Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-pisang tersebut.
Monyet A yang mula-mula mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-kali sampai akhirnya monyet A menyerah.
Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula. Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah,para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik.Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B.
Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami`kesialan’ seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.
Cuaca di sekitar istana malam itu sangat dingin, hembusan angin dari rerindangan pohon dan jingkrakan kijang yang masih betah menikmati malam menambah khidmat suasana, tapi ketika malam mulai pekat datanglah empat Brigadier Jendral, yaitu M. Jusuf, Amirmachmud, Basuki Rahmat dan M. Panggabean mengetuk pintu istana. Suasana sunyi, dingin dan damai di istana bogor seketika berubah panas dan gaduh, adu todongan pistol antara para brigjen dengan pengawal Presiden tak terelakan, tapi suasana seketika reda ketika Soekrano memerintahkan Soekardjo menyarungkan senjata. Setelah suasana mereda, para jendral menyerahkan lembaran surat yang harus ditandatangani, di bawah tekanan akhirnya sang Presiden menandatangani surat tersebut. Dengan sedikit pesan setelah situasi pulih mandat segera di kembalikan, itulah sekelumit cerita Lettu Soekardjo Wilardjito, pengawal presiden.
Kisah yang digunakan untuk pembanding sejarah penandatangan supersemar versi pemerintah, walaupun pada akhrinya pernyataan Lettu Soekardjo tersebut di bantah oleh M. Jusuf, M. Panggabean, dan A.M Hanafi. Itu masih di tambah dengan kisah penandatanganan versi A.M Hanafi, mantan kedubes kuba yang dipecat secara abal-abal oleh Soeharto, versi sang mantan dubes memang tidak terlalu jauh dengan versi pemerintah yaitu secara baik-baik, tapi ada perbedaan waktu kalau versi pemerintah waktunya malam sekitar 20.30 WIB tapi justru menurut Hanafi siang hari.
Entah sudah berapa banyak media yang menuliskan tentang kondisi Pak Harto saat ini, dan mengaitkannya dengan berbagai hal. Ada yang memihak, melawan, cover both sides, dan ada yang main aman berdiri di tengah.
Saya tidak ingin membahas kondisi Pak Harto saat ini, lagipula televisi sudah menyiarkannya setiap waktu, lengkap dari berbagai sisi yang coba dikupas, dan terus di-update lebih dari laporan perkembangan pasar modal atau nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. RSPP, Cendana, Kalitan Solo, hingga Astana Giri Bangun terus dipantau oleh jurnalis, mereka tak ingin kehilangan moment, begitu juga khalayak.
Melalui tulisan ini saya mencoba membuka kembali memori kita tentang catatan sejarah Indonesia yang pernah kita dapatkan dari buku SD. Lebih tepatnya saya ingin menggiring anda pada satu ‘perkamen' bernama Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Kenapa? Karena dengan adanya Supersemar, situasi politik di Indonesia mengalami perubahan, kekuasaan Bung Karno meredup, dan kekuasaan Jenderal Suharto meningkat. Supersemar dianggap sebagai penyerahan dan perpindahan kekuasaan. Supersemar adalah monumen awal duduknya Jenderal Suharto di kursi kepresidenan, lalu menjadi seorang pemimpin dan penguasa yang cenderung Machiavelli minded -mungkin Pak Harto juga sudah membaca Il Principe yang legendaris itu.
SEINGAT pelajaran sekolah tentang sejarah Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), penjelasannya sesuai apa yang tertuang didalam buku maupun apa yang telah dijelaskan oleh guru sejarah perjungan bangsa. Setelah adanya perkembangan kehidupan berbangsa, dan pertumbuhan sikap kritis terhadap nilai sejarah bangsa, beberapa pendapat memandang adanya tujuan supersemar yang dinilai masih bersifat kontroversial. Namun terlepas dari unsur pro dan kontra tentang peristiwa sebenarnya, bila ditilik dari fakta sejarah yang telah diungkapkan, pasti ada makna penting yang patut dipertimbangkan dan dikembangkan sebagai bahan pelajaran utama bagi kiprah perjalanan bangsa. Berdasarkan rangkuman dari berbagai sumber informasi situs sejarah bangsa, nilai makna mendasar bisa ditelusuri dari bagaimana isi sejarah surat perintah sebelas maret tersebut diterbitkan. Bila ditelaah dari isi supersemar itu, ada 3 (tiga) makna kajian nilai historis yang bisa dikembangkan bersama.
1. Adanya Perintah Tugas Demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa
“Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimin Besar revolusi/mandataris MPRS, demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi.”
"Nasib bukanlah perkara kemungkinan atau kesempatan. Nasib adalah soal pilihan: bukan sesuatu yang ditunggu, tapi sesuatu yang wajib diraih." ~William Jennings Bryan (1860-1925), orator dan politisi Demokrat Amerika Serikat
Stop Press
Designed by Karsa Mandiri Persada
Jl. Pulokambing No. 9
Kawasan Industri Pulogadung Jakarta Timur 13930
No. Telp : 021-4619151 (Hunting)
No. Faks : 021-4612217