Inilah jenius-jenius Indonesia di luar negeri. Inilah orang-orang “terbuang” dari Indonesia, semoga dapat membuat kita menjadi termotivasi
March Boedihardjo ==> HONG KONG – Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU). March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Karena keistimewaannya itu, perguruan tinggi tersebut menyusun kurikulum khusus untuknya dengan jangka waktu penyelesaian lima tahun(dari 2007). Ketika ditanya tentang cara beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, March mengaku tidak pernah cemas berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua darinya. ”Ketika saya di Oxford, semua rekan sekelas saya berusia di atas 18 tahun dan kami kerap mendiskusikan tugas-tugas matematika,’’ kisahnya. March memang menempuh pendidikan menengah di Inggris. Hebatnya, dia masuk dalam kelas akselerasi, sehingga hanya perlu waktu dua tahun menjalani pendidikan setingkat SMA itu. Hasilnya, dia mendapat dua nilai A untuk pelajaran matematika dan B untuk statistik. Dia juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-level. Dia lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut.
Para perokok dianggap memiliki indeks tingkat kecerdasan (IQ) yang lebih rendah ketimbang mereka yang bukan perokok. Makin banyak rokok yang dihisap, makin rendah pula indeks IQ yang bersangkutan.
Demikian menurut tes di Israel, yang hasilnya dimuat dalam suatu jurnal ilmiah, Addiction. Tes itu melibatkan lebih dari 20.000 personil militer Israel yang baru direkrut.
Tim peneliti pimpinan dr. Mark Weiser dari Rumah Sakit Sheba Medical Center, Tel Hashomer, mengungkapkan bahwa dari hasil penelitian, para pria muda yang mengisap minimal sebungkus rokok dalam sehari memiliki skor IQ 7,5 lebih rendah dari yang bukan perokok.
“Remaja yang memiliki skor IQ yang rendah kemungkinan besar akan dilibatkan dalam program anti merokok,” demikian kesimpulan tim peneliti dalam jurnal terbaru Addiction, seperti yang dikutip laman harian China Daily, Rabu 24 Februari 2010.
Penelitian itu melibatkan 20.211 pemuda berusia 18 tahun, yang baru direkrut sebagai tentara Israel. Tes itu tidak mencantumkan mereka yang bermasalah dengan gangguan kesehatan, karena sudah pasti mereka tidak lulus menjadi tentara.
Tingkat korupsi suatu negara dapat diukur dari Indek Persepsi Korupsi (IPK). Data tahun 2009 menunjukan bahwa Indonesia berada pada papan bawah dengan dengan Indek Persepsi Korupsi (IPK) 2,8. Skala IPK mulai dari 1 sampai 10, semakin besar nilai IPK suatu negara maka semakin bersih negara tersebut dari tindakan korupsi. Dari data yang diperoleh dari Transparency International Corruption Perception Index 2009 tersebut, IPK Indonesia sama dengan negara lainnya pada urutan 111 seperti Algeria, Djibouti, Egypt, Kiribati, Mali, Sao Tome and Principe, Solomon Islands dan Togo. Angka ini menyimpulkan bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang belum lepas dari persoalan korupsi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi berarti busuk; palsu; suap. Korupsi merupakan tindakan yang dapat menyebabkan sebuah negara menjadi bangkrut dengan efek yang luar biasa seperti hancurnya perekonomian, rusaknya sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Korupsi di Indonesia sudah membudaya tanpa proses peradilan yang terbuka dan kredibel. Semua pihak yang terkait dengan sebuah kasus korupsi seakan menutup mata dan lepas tangan seolah-olah tanpa terjadi apa-apa. Tindakan korupsi mulai dari yang paling besar oleh para pejabat negeri ini sampai kepada yang paling kecil seperti pada kepala desa, kepala sekolah dan pegawai rendahan. mulai dari proses penyuapan berjumlah puluhan ribu rupiah yang biasa terlihat di jalanan sampai pada kasus menggelapkan uang negara dengan jumlah triliunan.
Coba Anda renungkan baik-baik, mana dari dua pernyataan di atas yang Anda pilih? Interaksi saya dengan banyak orang menunjukkan bahwa jawaban yang paling banyak diminati adalah yang pertama: Bekerja untuk Hidup. Bukankah kita memang perlu bekerja agar dapat membiayai kehidupan kita? Bukankah kita tidak dapat hidup bila kita tidak bekerja mencari uang?
Lantas bagaimana dengan Hidup untuk bekerja? "Oh tidak", demikian yang mungkin akan dikatakan banyak orang. Kalau saya hidup untuk bekerja lantas bagaimana saya bisa menikmati hidup ini? Bukankah hidup sejatinya adalah untuk dinikmati? Bukankah bekerja hanyalah merupakan salah satu dari berbagai aspek yang ada dalam kehidupan? Bukankah bagian terindah dari kehidupan kita adalah berada bersama-sama dengan orang-orang yang kita cintai yang berarti jauh dari dunia kerja?
Sesungguhnya kedua pernyataan tersebut mewakili dua paradigma yang berbeda. Mereka yang menganut "Bekerja untuk hidup" melihat pekerjaan sebagai konsekuensi yang mau tak mau harus kita lakukan sebagai sebuah syarat terpenting agar kita bisa hidup.
Dengan demikian, pekerjaan itu sendiri sesungguhnya hanyalah sebuah cara untuk membiayai hidup. Kalau demikian halnya seandainya ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk membiayai hidup -selain harus bersusah payah bekerja- maka cara itulah yang akan kita ambil.
"Never explain yourself to any one. Because the person who likes you doesn’t need it. And the person who dislike you won’t believe it."~Pravsworld
Stop Press
Designed by Karsa Mandiri Persada
Jl. Pulokambing No. 9
Kawasan Industri Pulogadung Jakarta Timur 13930
No. Telp : 021-4619151 (Hunting)
No. Faks : 021-4612217